Minggu, 11 Januari 2009

Minggu, 14 Desember 2008

Barcelona Juaranya


La Liga Spanyol baru masuk matchday ke-15. Artinya, putaran pertama kurang empat matchday lagi atau keseluruhan kompetisi masih kurang 23 matchday. Namun, juara musim 2008/2009 sudah terdeteksi. Siapa lagi kalau bukan Barcelona.
Kemenangan Barca 2-0 atas seteru abadinya Real Madrid dalam laga el clasico di Nou Camp, Minggu (14/12) dinihari WIB menjadi salah satu indikasi paling kuat.
Ya, kemenangan itu membuat Barca kokoh di puncak klasemen sementara dengan 38 poin atau unggul 12 poin dari Madrid yang tercecer di posisi kelima.
Mengalahkan Madrid memang punya arti penting bagi Barca. Dua tim ini merupakan penguasa Liga Spanyol sejak kompetisi bergulir 1945. Bayangkan, dari koleksi gelar, Madrid merupakan pengumpul terbanyak yakni 29 kali diikuti Barca 16 kali. Setelah itu, Atletico Madrid tujuh kali, Valencia (4), Bilbao (3), Sociedad (2) dan Deportivo La Coruna serta Sevilla masing-masing satu gelar.
Karena rivalitas itulah, Barca layak menjadi juaranya ketika mampu mengalahkan Madrid. Ini didukung fakta ketika Barcelona merebut juara 2005, mereka menang 3-0 atas Madrid di Nou Camp. Setahun kemudian saat mereka mempertahankan gelar, Madrid lagi-lagi dibuat tidak berkutik. Main di Santiago Bernabeu, Barca mempermalukan Madrid 3-0. Meski di leg kedua di Nou Camp imbang 1-1.
Nah, ketika giliran Madrid merebut juara beruntun pada 2007 dan 2008, Barca giliran yang tidak berkutik. Pada musim 2006/2007, Barca menyerah 0-2 di Santiago Bernabeu dan imbang 3-3 di Nou Camp. Bahkan, musim lalu Barca benar-benar tak berdaya menghadapi Raul Gonzales dkk. Di kandang sendiri kalah 0-1 saat away menyerah 1-4.
Hadirnya pelatih baru Jose 'Pep' Guardiola menggantikan Frank Rijkaard di awal musim ini membawa gairah baru. Meski sempat mendapat kritikan, menyusul kekalahan 0-1 dari tuan rumah Numancia di laga pembuka, namun setelah itu Lionel Messi dan kawan-kawan melesat bak anak panah. Mereka sulit dijinakkan. 14 Pertandingan berikutnya dilalui dengan 12 kemenangan dan dua hasil imbang. Itupun masih ditambah dengan banjirnya gol-gol hampir di setiap pertandingan. Dari 15 kali main, lahir 46 gol. Kalau dirata-rata setiap pertandingan Barca mencetak tiga gol.
Agak menyimpang sedikit, sukses serupa dipetik di Liga Champions. Enam kali main mereka mencetak 18 gol. Berarti rata-rata gol setiap pertandingan juga sama yakni tiga gol. Sukses itu membawa mereka lolos ke 16 Besar dengan status juara grup.
Kini fokus Barca tidak lagi mengarah ke Madrid. Paling tidak perhatian dialihkan ke Valencia (30) dan Villarreal (29) yang menempel di posisi kedua dan ketiga. Kalau mencermati kekuatan dan tradisi juara, jelas beban Barca relatif sangat ringan. Valencia dan Villarreal paling-paling hanya mampu menimbulkan efek kejut saja. Tidak akan lebih. Justru yang paling bahaya musuh akan datang dari dalam diri mereka sendiri. Keyakinan yang terlalu tinggi bisa melenakan apalagi kalau sampai mabuk kemenangan.
Sekarang tinggal mampukah Lionel Messi dkk mengalahkan diri sendiri. Juara tidak lagi di depan mata, tapi sudah 'digenggam'. Kalau menggenggamnya nggak rapat ya lepas. Karena itu ya harus digenggam rapat.

Jumat, 12 Desember 2008

Freddy dan Persebaya


Melambungnya prestasi sebuah tim banyak dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya, manajemen tim yang bagus, kualitas pemain jempolan, suporter yang setia dalam memberikan dukungan dan tak kalah penting peran pelatih.
Mengelola tim lewat manajemen yang bagus memberi perasaan nyaman bagi pemain. Apalagi kalau gaji lancar, bonus tak pernah absen. Faktor-faktor itu akan kian membuat sebuah tim digdaya jika didukung pemain berkualitas dari semua lini. Sesama pemain akan semakin percaya diri karena yakin dengan kemampuan rekan-rekannya.
Namun semua itu tidak sepenuhnya bisa menjadi jaminan tim bakal menjadi sebuah kekuatan dhasyat yang menakutkan lawan. Lho kok bisa? Ya iyalah. Kalau pelatihnya koplo nggak becus meramu tim, masak bisa membangun sebuah kolektivitas tim yang tangguh. Padahal, untuk menjadikan sebuah tim sepak bola nggak kalahan salah satunya tim harus solid. Anak kecil aja tahu.
Nah, syarat itu nampaknya sudah dimiliki Freddy Mulli. Ya, Freddy sudah menjadikan Persebaya juara putaran pertama wilayah timur Divisi Utama meskipun kompetisi belum berakhir. Namun ironisnya, nasib Freddy di Persebaya justru lebih dulu berakhir dibanding roda kompetisi. Freddy tinggal delapan hari lagi bersama Persebaya. Kontraknya berakhir 21 Desember dan tidak diperpanjang. Alasan manajemen simple. Antara manajemen dan Freddy tidak menemui titik temu soal nilai kontrak yang baru. Freddy minta nilai kontrak baru setengah musim nilainya sama dengan sebelumnya yakni Rp 650 juta. Sedang manajemen menawar Rp 150 juta untuk enam bulan ke depan.
Kalau sudah ngomong duit memang sulit. Apalagi kalau disangkut pautkan dengan kata profesional. Barang yang bagus tidak salah kalau harganya mahal. Tapi di tengah kondisi keuangan yang serba sulit seperti sekarang, termasuk tidak adanya kucuran dana APBD untuk Persebaya, tentu harga yang ditawarkan Freddy sangat, sangat tinggi. Mustahil, Persebaya bisa menuruti. Wong untuk membayar pemain saja sempat tersendat-sendat lha ini kok ditawari harga segitu. Akhirnya, pasarlah yang menentukan. Siapa punya duit banyak, dia akan mampu membeli yang bagus. Sebaliknya, siapa yang duitnya pas-pasan yang akan dapat barang yang pas-pasan.
Tapi hidup tetap harus memilih. Freddy bisa memilih tim yang dinilai akan memberi kebaikan, demikian juga Persebaya juga punya kesempatan memilih pelatih baru yang kelak bisa meneruskan era prestasi Freddy. Semoga semuanya menemui keberhasilan di jalan masing-masing.

Kamis, 11 Desember 2008

Tulisan Pertama

Jumat, 12 Desember, pukul 00.40 WIB aku masih di kantor. Aku lagi getol mengisi blogku yang baru berumur, 26 jam. Perut sebetulnya lapar. Di luar kantor ada Ambon yang jual makanan. Tapi aku lagi males aja beli.
Aku coba-coba nulis diblog. Belum terpikir mau nulis apa yang penting blog ada isinya dulu. Aku lebih sreg mengisi dulu blog dengan foto-foto. Kebetulan yang banyak aku kirim foto anak pertamaku, Dio bersama grup bandnya.
Baik itu bersama Zicro (band waktu SMP) maupun Cahaya Smantig (saat ini). Nama bandnya berganti karena personelnya juga ganti. Yang ganti vokalis, dan drummer. Vokalis dan drummernya yang lama, Irfan dan Imam tidak lagi satu sekolahan. Kini posisinya diisi dua cewek. Namanya aku lupa. Raka yang dulu pegang keybord juga tidak satu sekolahan. Posisinya kosong tidak diisi anak baru. Jadi di Cahaya Smantig ini tanpa keybordis.
Foto anak keduaku, Dea juga aku masukkan. Belum banyak. Mudah-mudahan dalam waktu dekat aku terus rajin mengisi dan mengisi.

Cahaya Smantig harus puas jadi juara dua di festival Piala Kemerdekaan 2008 yang diadakan Diknas Sidoarjo. Tapi selain predikat juara dua itu, Ejie tampil sebagai gitaris terbaik dan Syarif sebagai basis terbaik.



Cahaya Smantig usai menjajal Studio Higanon Surabaya. Katanya sih asyik. Persiapan sebelum tampil di event Radar Surabaya.